Assalamu 'alaikum.
Manusia tidak ada yang sempurna. Sebaik apapun dia. Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Entah salah kata, salah perbuatan, salah pemikiran, dan salah lain-lainnya. Tapi kadang, sesuatu yang kita lakukan sampai kita menjadi "salah" adalah akibat kita terhimpit di suatu kondisi. Kondisi yang sering terjadi adalah suatu titik antara membela diri atau tidak menyakiti orang lain. Saat kita membela diri, orang lain tersakiti. Saat kita menyenangkan orang lain, diri sendiri yang tersakiti. Ada beberapa orang, seperti saya, yang hidupnya selalu berusaha menyenangkan orang lain. Abai diri sendiri. Kalo sekali saja membuat orang lain kecewa, atau marah, cuman gara2 salah ngomong 1 kata aja, wah panik luar biasa. Kepikiran berhari-hari. Sampai lupa latar belakang kenapa bisa ngomong gitu. Padahal alasan ngomong begitu ya gara-gara terhimpit kondisi tadi.
Kalau saya menyenangkan dia dengan kata-kata saya, batin saya terusik. Tersiksa. Karena bertentangan apa yang di mulut dan yang di hati. Saya jadi orang ga jujur. Kalo udah kayak gitu, ujung-ujungnya kesel dipendem. Dipendem terus sampe gede, akhirnya di akhir dikeluarin juga kemarahannya versi ultra mega. Bakal nyakitin orang juga. Saya sadar. Tapi kalo saya jujur, yang di hati sama seperti yang diucapkan, saya lega bisa jujur, hati tidak tersiksa. Tapi rentan sekali menyakiti orang lain, meskipun lukanya keciiil sekali. Nah ini nih yang riskan. Tergantung situasi dan kondisi mood atau hati yang bersangkutan. Kalo lagi happy dianya ya hatinya kuat, ga bakal luka. Tapi kalo hatinya lagi marah, banyak pikiran, kesel, cape, wah lagi 'lembek-lembek'nya itu hati ibaratnya, langsung perkataan saya mendadak jadi dalam menusuk dan meninggalkan luka lebar dan besar. Jadi marah deh.
Jadi bingung ya? Serba salah. Mau jujur sama diri sendiri atau mengorbankan hati sendiri? Kalo kamu gimana?
"Kalo salah ya minta maaf". Betul! Betul sekali. Tapi gimana dengan orang-orang yang misalkan kita minta maaf, makin gede gengsinya, makin gamau maafin kita? Atau mungkin bagi dia, kesalahan kita tidak akan termaafkan. Bagaimana tuh? Barusan saya baca artikel di internet tentang yang harus dilakukan jika merasa bersalah. Ada banyak sih, tapi saya rangkum segini ya. Kalo kita harus mengingat hal baik yang kita lakukan, berani mengakui kesalahan, dan memaafkan diri kita sendiri. Contoh, misal kita negur orang nih gara-gara dia buang sampah sembarangan. Masalahnya kita saking keselnya dia gabisa buang sampah ke tempat sampah, kita jadi kesel dan marah-marah. Lalu orang itupun ga terima dimarahin dan marah sama kita juga. Kalo dalam situasi seperti ini, coba inget hal baik yang kita lakukan. Kita sudah berniat baik, menegur dia biar buang sampah ke tempatnya. Ga ada niatan sedikitpun untuk merendahkan dia. Eh, tapi kata-kata kita tanpa sadar menyakiti dia. Yang kedua, akui. Akui setidaknya pada diri kita sendiri bahwa kita memang salah ngomong. Ada kata-kata tidak pantas yang terucap. Padahal tidak perlu. Setelah itu yang ketiga, maafkan diri sendiri. Maafkan diri kita yang salah ngomong. Kalo muslim, rendahkan diri kita serendah-rendahnya sambil istigfar. Istigfar sebenar-benarnya istigfar. Curhat sama Allah. Akui sama Allah. Minta maaf sama Allah. Setelah itu bilang ke diri sendiri "ya saya maafkan kamu. Saya maafkan kamu. Saya maafkan kamu. Jangan diulangi ya". Diulang-ulang lebih ngena ke hati. Lalu berjanjilah ke diri sendiri untuk ga ngulangi lagi. Saya udah coba, dan alhamdulillah berkurang sedikit rasa salahnya.
Saya mah baper orangnya, jadi ada salah sedikiiit aja, langsung ngeh. Langsung ngerasa "wah ini salah gue". Ada +/-nya sih. Bagusnya bisa peka sama kesalahan diri, salahnya bisa overblaming diri sendiri.
Jadi untukmu yang seperti saya juga, semangat ya untuk berdamai dengan diri sendiri.
2019
Komentar
Posting Komentar